Tangerang Selatan dan Akronimnya


Tangerang Selatan menjelang pemilukada     Sumber : KBBS
Seminggu sudah berlalu sejak Pemilukada Kota Tangerang Selatan digelar.

Pengumuman resmi KPUD Tangerang Selatan yang diumumkan pada hari Rabu 17 November yl memutuskan pasangan Airin Rachmy Diany - Benyamin Davnie sebagai Walikota dan Wakil Walikota pertama hasil pilihan warga.

Airin-Benyamin unggul tipis 1.115 suara (0,29%) dari pasangan Arsid-Andre. Sementara pasangan Arsid-Andre sudah menyiapkan gugatan ke MK karena merasa dicurangi. Warga masih menunggu, apakah masih ada drama lanjutan dan peristiwa ini akan berakhir ricuh (seperti hampir semua pemilukada di tanah air sekarang ini), atau damai-damai saja. Tunggu saja saat tayangnya.

Yang jelas pemenangnya sebenarnya adalah “Mr. Kambing Item” yang tidak ikut disembelih di Hari Raya Qurban kemarin.  Bagaimana tidak?. Penduduk yang terdaftar sebagai pemilih tetap hanya kira2 44% yang mempergunakan hak pilihnya.

Lebih jelas dari yang jelas di atas, apabila hasilnya ternyata tidak disepakati dan harus dilakukan pemilukada ulang, tindakan itu akan sangat melecehkan pemilih aktif yang sudah ber-capekria membuang waktu untuk memilih tanpa motivasi apapun selain ingin menjadi warga yang baik.

Kali ini saya serius (hehehe), mudah2an dibaca oleh semua kontestan yang akan berniat untuk bertikai itu. (Mudah2an sih tidak ada).

Ah, sudahlah, jadi serius amat sih?.

Tangerang Selatan sendiri diresmikan keberadaannya oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto 29 Oktober 2008. Tapi isu ingin berpisah (istilah politisnya : “dimekarkan“) dari Kabupaten Tangerang sudah ada sejak tahun 2000an. Kami merasa bahwa sebagai penghasil PAD (apaan tuh!) terbesar di Kabupaten Tangerang, aspirasi kami terpinggirkan (waduh, istilah politik lagi!). Jalan tetap berlubang, sulitnya birokrasi dll.  (Benernya saya risih memakai istilah “kami” karena saya tidak ikut sebagai pembawa aspirasi. Tapi mau bagaimana lagi? Masa harus pakai istilah “kita“?. Jelas ga bisa karena saya tidak tahu anda termasuk atau tidak. Mau pakai istilah “mereka“? Kebangetan banget ya, saya kan penduduk Tangerang Selatan?).

Tapi memang sudah lama kami (nah, yang ini benar, karena saya termasuk provokatornya), mengelompokkan diri kami sebagai golongan JABUTAGA (Sodara kembar JABOTABEK, tapi ini akronim dari Jakarta Bukan Tangerang Ogah). Golongan yang tiap hari bermacet ria menempuh jalan lintas provinsi (Jakarta dan Tangerang kan beda provinsi?) untuk mencari remah2 kehidupan di Jakarta, membayar pajak di Tangerang dan setiap hari ngomel karena macet dan jalan yang rusak parah.

Tapi, kenapa ya namanya harus Tangerang Selatan?

Menurut data dari mas Jimmy Wales si pendiri Wikipedia, Tangerang Selatan adalah kota dengan populasi penduduk nomer 11 di Indonesia.  Hanya kalah tipis dari Makasar dan lebih besar dari Bogor.  Diantara 12 nama kota itu hanya kota kami ini yang memakai nama mata angin,  Selatan.

Dengan hobi kita (masyarakat Indonesia, kali ini anda semua termasuk!) membuat akronim untuk sesuatu yang susah diucapkan karena dirasa terlalu panjang, kota Tangerang Selatan lantas saja populer dengan akronim Tangsel.   Ini yang rada nyelekit di kuping saya.

Alkisah, pada suatu malam berbintang, cerah, tiada mendung dan tiada hujan, penduduk kampung saya berkumpul di Balai RW untuk mendengar pengumuman dari Kelurahan yang dibacakan Ketua RW.  Ketua RW yang malas membaca Tangerang Selatan secara lengkap, utuh dan benar, ‘terpaksa‘ beberapa kali menggunakan istilah Tangsel.

Ditengah seriusnya formalitas yang dibacakan, di sektor gelandang kiri pertahanan Rapat RW ada yang nyeletuk : “Sebelum pergi, sebaiknya tangsel perut dulu“. Disambung celetukan serupa tapi tak sama dari sektor sayap kanan : “Kalau mau mendaki gunung harap siapkan tangsel yang baik“. Cukup lirih sehingga sulit diketahui siapa si pembuat onar, tapi cukup cempreng di kuping, sehingga membuat seluruh ‘audience‘ ngakak.

Ketua RW yang jengkel karena konsentrasinya buyar (serba salah sih, mau marah kok kebangetan, mau ikutan ngakak kok harus pasang muka ja’im) akhirnya cuma bisa berteriak lantang : “Plesetaaaaaaan!!!!!!“.

Salam dari Tangsel!

Comments

errisubakti mengatakan...

hahahaha.. :D

jabutaga... :)

Posting Komentar